Surakarta – Museum Radya Pustaka tidak hanya dikenal sebagai museum tertua kedua di Indonesia setelah Museum Nasional Jakarta. Di balik dinding bangunan bersejarahnya, terdapat satu koleksi ikonik yang paling menarik perhatian pengunjung dan sarat akan nilai historis, yaitu Canyhik Rajamala Menurut keterangan Asha Fara (17) salah satu staf magang di Museum Radya Pustaka Canthik Rajamala merupakan koleksi yang paling ikonik di museum tersebut.

Sebelum dipamerkan sebagai koleksi museum, Canthik Rajamala ini merupakan hiasan yang diletakkan di bagian haluan atau ujung depan kapal (perahu) pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana IV.
“canthik rajamala itu dulu dibuat oleh raja pakubuana IV untuk hiasan perahu di bagian Haluan. Fungsinnya adalah untuk menolak bala” ujar Asha
Pemilihan sosok Rajamala sendiri diambil dari tokoh pewayangan bernama Raden Rajamala. Dalam kepercayaan lokal, sosok inidisimbolkan sebagai kekuatan pelindung dan proteksi dari lautan, atau diibaratkan seperti dewa laut.
replika dari hiasan ini pun masih dapat dilihat pada bagian depan replika kapal yang ada di museum Selain Rajamala, Museum Radya Pustaka yang didirikan pada tahun 1890 oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV ini menyimpan banyak cerita lain.
Sebelum difungsikan sebagai museum seperti sekarang, gedung ini dulunya merupakan rumah tinggal milik seorang warga negara Belanda Bernama Johannes Busselaar Rumah tersebut kemudian dibeli oleh Pakubuwana X untuk dialihfungsikan menjadi museum hingga saat ini.
Di dalam museum, pengunjung juga dapat melihat koleksi unik berupa sebuah kotak musik (orgel) Kotak musik tersebut merupakan barang peninggalan berharga yang merupakan hadiah langsung dari kaisar Prancis Napoleon Bonaparte I, untuk pihak keraton Hingga saat ini, Museum Radya Pustaka terus menjadi destinasi favorit, terutama bagi warga lokal dan kalangan pelajar. Tingkat kunjungan paling
padat biasanya terjadi pada akhir pekan, khususnya di hari Minggu. Meskipun kunjungan dari wisatawan asing tergolong masih jarang, museum ini sangat diminati oleh para pelajar yang datang untuk melakukan studi maupun tugas sekolah. Kebanyakan siswa memanfaatkan ruang museum untuk melakukan dokumentasi kegiatan, seperti membuat video edukasi dan tugas-tugas berbasis sejarah lainnya.



