
Klaten, Jawa Tengah – Di tengah perkembangan industri tekstil modern, pengrajin kain tenun lurik di Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten terus berupaya melestarikan warisan budaya lokal.Salah satu penerus usaha tenun lurik, Selly Vega Ningsih, mempertahankan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman neneknya.
Selly Vega Ningsih mengklaim, usaha tenun lurik yang dijalankannya merupakan usaha keluarga yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
Awalnya usaha tersebut dirintis oleh sang nenek, kemudian Diteruskan oleh Orangtua, hingga kini ia menjadi generasi penerus yang tetap menjaga keberlangsungan produksi kain tenun lurik.
“Pendirinya sebenarnya nenek saya, kemudian diteruskan oleh ibu dan orang tua saya. Sekarang saya yangmelanjutkan usaha ini agar tetap lestari,” ujar Selly saat ditemui di tempat produksi.
Desa Tlingsing sendiri dikenal sebagai salah satu sentra budaya sekaligus sentra produksi kain tenun lurik di Kabupaten Klaten. Sebagian besar masyarakat di desa tersebut telah berkecimpung dalam dunia
tenun lurik sejak dahulu, sehingga keterampilan menenun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Dalam proses pembuatannya, kain tenun lurik masih dikerjakan secara tradisional dengan tahapan yang cukup panjang. Proses dimulai dari benang putih yang didatangkan dari Bandung.
Benang tersebut kemudian dicuci dan melalui proses diwenter, yaitu pewarnaan menggunakan pewarna sintetis maupun pewarna alami.
Setelah diberi warna, benang dimasak dalam air panas agar warna meresap secara merata.
Selanjutnya benang dicuci kembali hingga menghasilkan warna yang sesuai, kemudian dijemur sampai kering. Setelah itu benang memasuki tahap disclose, yaitu proses penggulungan benang. Benang yang telah digulung kemudian melalui proses skir untuk menentukan susunan warna dan motif sebelum akhirnya
ditenun menggunakan alat tenun menjadi kain lurik.
“Proses pembuatan kain lurik sangat panjang, mulai dari benang putih, pewarnaan, pengeringan,
penggulungan, skir hingga proses menenun,” jelas Selly.
Kain tenun lurik yang diproduksi memiliki berbagai jenis dan motif. Di antaranya kain surjan dengan
tekstur lebih kasar dan harga sekitar Rp10.000–Rp12.000 per meter, tergantung motif dan coraknya.
Selain itu terdapat motif lurik biasa, gradasi, grimis, sawit, hingga motif yang terinspirasi dari alam.
Tidak hanya dijual dalam bentuk kain, hasil tenun lurik juga dikembangkan menjadi berbagai produk seperti
baju, taplak meja, dompet, suvenir, dan berbagai kerajinan lainnya. Inovasi tersebut dilakukan agar kain
lurik tetap diminati oleh masyarakat luas.
Meski demikian, Selly mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi pengrajin saat ini adalah
munculnya produk kain lurik buatan pabrik yang dijual dengan harga lebih murah. Kondisi tersebut
membuat para pengrajin tradisional harus terus berinovasi, meningkatkan promosi, serta memperluas
pemasaran agar mampu bersaing.”Sekarang tantangan terbesar kami adalah banyaknya kain lurik produksi pabrik yang harganya jauh lebih
murah. Karena itu kami harus lebih efektif dalam promosi dan pemasaran,” ungkapnya.
Selly berharap generasi muda dapat ikut berperan dalam melestarikan kain tenun lurik sebagai salah satu
warisan budaya Indonesia.
“Harapan saya, generasi muda bisa ikut melestarikan budaya ini agar terus berkembang dan tidak pudar
oleh perkembangan zaman,” tutupn




