
SOLO – Kegiatan jual beli di Pasar Triwindu, belum sepenuhnya bangkit setelah pandemi COVID-19,
pasar antik ini merupakan salah satu tujuan wisata budaya di Kota Solo. Pengurangan jumlah pengunjung, terutama dari luar negeri, masih mempengaruhi pendapatan para pedagang barang antik.
Salah satu pedagang, Ibu Bambang (81), mengungkapkan bahwa ia telah berjualan di Pasar Triwindu selama lima puluh tahun.
“Saya telah berjualan di tempat ini selama 50 tahun,” katanya saat dijumpai di kiosnya, Selasa (30/6).
Ia mengungkapkan bahwa usaha yang tengah ia jalani saat ini adalah bisnis
keluarga yang diturunkan dari generasi ke generasi. Saat ini produk yang dijual
di kiosnya merupakan produk yang ia dapatkan dari supplier kemudian dijual kembali pada konsumen di Pasar Triwindu. Adapun barang yang saat ini sangat
digemari oleh konsumen ialah barang baru yang memiliki desain mirip dengan barang antik. Meskipun begitu, ketertarikan publik terhadap produk dengan
nuansa klasik masih terbilang tinggi.
Ibu Bambang menyatakan, sebelum adanya pandemi COVID-19, Pasar Triwindu sering dikunjungi oleh wisatawan asing yang mencari barang-barang antik,
namun setelah pandemi penurunan angka kunjungan oleh wisatawan asing mengalami penurunan tajam dan saat ini pengunjung didominasi oleh wisatawan
dari Solo serta daerah sekitarnya. Situasi tersebut berdampak pada pendapatan penjualan para pedagang. Penurunan jumlah pengunjung membuat transaksi Tidak sepadat sebelum pandemi.
Walaupun menghadapi berbagai tantangan, para pedagang tetap berharap besar
Pasar Triwindu akan terus menjadi tempat wisata budaya di Kota Solo. Kenaikan kunjungan wisatawan diharapkan bisa mendorong perekonomian para pedagang
serta mempertahankan keberadaan pasar barang antik yang merupakan bagian dari warisan budaya Kota Solo.




