Surakarta – Monumen Pers Nasional terus berupaya menjaga berbagai koleksi bersejarah sebagai bentuk pelestarian perkembangan dunia pers Indonesia.
Beragam koleksi, mulai dari mesin ketik, telepon kuno, patung, hingga arsip surat kabar lama masih dirawat dengan baik agar dapat menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan oleh Nada (21), mahasiswi Politeknik Jember yang sedang menjalani program magang di Monumen Pers Nasional Solo.
Menurut Nada, koleksi surat kabar lama menjadi salah satu arsip yang memiliki nilai sejarah tinggi karena tidak mudah ditemukan di tempat lain. Oleh sebab itu, pihak pengelola selalu melakukan perawatan terhadap koleksi yang mengalami kerusakan.
“Kalau ada koran atau koleksi yang rusak biasanya diperbaiki lagi, karena koleksi seperti itu mungkin hanya ada di Monumen Pers Nasional. Jadi harus benar-benar dijaga supaya tetap bisa dipelajari pengunjung,” ujarnya (7/7).
Lebih lanjut, Nada menjelaskan bahwa koleksi yang tersimpan di museum tidak hanya berupa arsip pers, tetapi juga berbagai alat komunikasi dan perlengkapan jurnalistik dari masa lampau.
Menurutnya, keberadaan koleksi tersebut membuat pengunjung dapat mengetahui bagaimana perkembangan media massa dan alat komunikasi sebelum berkembang seperti sekarang.
Selain menjadi tempat penyimpanan sejarah, Monumen Pers Nasional juga banyak dikunjungi pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang ingin menambah wawasan mengenai sejarah pers Indonesia.
Pengunjung berasal dari Solo, Yogyakarta, Jakarta, dan berbagai daerah lainnya yang datang untuk melihat langsung koleksi bersejarah tersebut. Melalui upaya pelestarian koleksi yang dilakukan secara berkelanjutan, Monumen Pers Nasional diharapkan dapat terus menjadi pusat edukasi sejarah pers Indonesia.
Keberadaan koleksi yang masih terawat juga menjadi bukti pentingnya menjaga warisan sejarah agar tetap dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi mendatang.



