Mahasiswi Magang Ungkap Daya Tarik Monumen Pers Nasional

Surakarta – Monumen Pers Nasional menjadi salah satu destinasi wisata edukasi yang banyak dikunjungi masyarakat karena menghadirkan museum, perpustakaan, serta koleksi sejarah pers Indonesia.

Berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum datang untuk belajar sekaligus melihat berbagai benda bersejarah yang masih terawat. Hal tersebut disampaikan oleh Nada (21), mahasiswi Politeknik Jember yang sedang menjalani program magang di Monumen Pers Nasional Solo.

Menurut Nada, fasilitas yang paling banyak dimanfaatkan pengunjung adalah perpustakaan.

“Kalau yang datang ke sini kebanyakan ke perpustakaan buat baca-baca atau sekadar mengerjakan tugas. Kalau mau lihat koleksi sejarah bisa langsung ke museum karena di sana banyak barang-barang lama seperti mesin ketik, telepon kuno, patung, sampai koran-koran lama,” ujarnya (7/7).

Lebih lanjut, Nada menjelaskan bahwa pengunjung Monumen Pers Nasional berasal dari berbagai daerah, mulai dari Solo dan sekitarnya, Yogyakarta, hingga Jakarta.

Selain masyarakat umum, monumen ini juga sering menerima kunjungan rombongan taman kanak-kanak, sekolah dasar, maupun mahasiswa. Menurutnya, waktu kunjungan paling ramai terjadi pada pukul 10.00 hingga 11.00 WIB, terutama pada hari Jumat dan Sabtu, sedangkan jam operasional monumen dimulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB setiap hari.

Untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, Monumen Pers Nasional telah menerapkan sistem kunjungan berbasis digital. Pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu melalui layar elektronik, kemudian memilih tujuan kunjungan, seperti museum, perpustakaan, maupun ruang informasi paper. Setelah itu, pengunjung akan memperoleh voucher Wi-Fi

dan mengikuti petunjuk arah berupa garis berwarna di lantai, yaitu warna oranye menuju perpustakaan dan warna biru menuju ruang informasi paper, sedangkan akses menuju museum dapat ditempuh melalui pintu kaca dan di dekat area patung.

Sistem tersebut memudahkan pengunjung menikmati seluruh fasilitas sekaligus memperoleh pengalaman belajar mengenai sejarah pers Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *