SURAKARTA – Di tengah pesatnya perkembangan minuman modern, wedang ronde masih mampu mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu kuliner tradisional yang digemari masyarakat. Minuman hangat berbahan dasar jahe dengan ronde berisi gula jawa ini tidak hanya menawarkan cita rasa khas, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dijaga oleh para pelaku usaha.
Salah satu penjual wedang ronde di Surakarta, Ardian (29), memilih melanjutkan usaha keluarganya sejak 2020. Keputusan tersebut didorong oleh keinginan untuk meneruskan tradisi sekaligus mempertahankan kuliner khas yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Dulu ini warisan keluarga dan saya yang melanjutkan,” ujar Ardian saat ditemui.
Menurut Ardian, minat masyarakat terhadap wedang ronde masih cukup tinggi. Pembelinya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga orang dewasa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki daya tarik meskipun harus bersaing dengan berbagai pilihan minuman kekinian.
Permintaan wedang ronde meningkat ketika cuaca dingin, terutama setelah hujan dan menjelang tengah malam. Pada waktu tersebut, banyak masyarakat mencari minuman hangat untuk menghangatkan tubuh.
“Biasanya paling ramai kalau habis hujan dan tengah malam,” katanya.
Ardian membuka usahanya setiap hari mulai setelah waktu Magrib hingga pukul 23.00 WIB. Ia memilih lokasi berjualan karena di kawasan tersebut belum banyak pedagang wedang ronde, sehingga peluang untuk menjangkau pelanggan dinilai lebih besar.
Bagi Ardian, mempertahankan usaha wedang ronde bukan sekadar mencari penghasilan, melainkan juga upaya melestarikan warisan kuliner tradisional.
Menurutnya, wedang ronde memiliki nilai budaya yang patut dijaga karena hingga kini masih diminati oleh masyarakat dari berbagai usia.
“Saya melanjutkan usaha ini karena wedang ronde menjadi bagian dari budaya masyarakat dan masih banyak dicari oleh pelanggan dari berbagai kalangan,” ungkapnya.
Dalam proses pembuatannya, ronde dibuat dari adonan tepung ketan yang diisi gula jawa, kemudian dibentuk bulat sebelum disajikan bersama kuah jahe yang diracik menggunakan berbagai rempah-rempah. Seluruh resep yang digunakan merupakan resep keluarga yang terus dipertahankan agar cita rasa khasnya tetap terjaga.
Keberadaan pedagang seperti Ardian menjadi bukti bahwa pelestarian kuliner tradisional tidak hanya bergantung pada nilai sejarahnya, tetapi juga pada komitmen generasi penerus dalam menjaga resep, cita rasa, dan tradisi.
Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat, wedang ronde tetap hadir sebagai simbol kehangatan sekaligus warisan budaya yang masih relevan hingga saat ini. ungkapnya.
Dalam proses pembuatannya, ronde dibuat dari adonan tepung ketan yang diisi gula jawa, kemudian dibentuk bulat sebelum disajikan bersama kuah jahe yang diracik menggunakan berbagai rempah-rempah.
Seluruh resep yang digunakan merupakan resep keluarga yang terus dipertahankan agar cita rasa khasnya tetap terjaga.
Keberadaan pedagang seperti Ardian menjadi bukti bahwa pelestarian kuliner tradisional tidak hanya bergantung pada nilai sejarahnya, tetapi juga pada komitmen generasi penerus dalam menjaga resep, cita rasa, dan tradisi.
Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat, wedang ronde tetap hadir sebagai simbol kehangatan sekaligus warisan budaya yang masih relevan hingga saat ini.






