Karanganyar – De Tjolomadoe di Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, terus
menjadi magnet bagi wisatawan, terutama kalangan anak muda. Bangunan yang dulunya
merupakan Pabrik Gula Colomadu ini tidak hanya menyimpan jejak sejarah industri gula di
Indonesia, tetapi juga berkembang menjadi ruang publik yang menghadirkan berbagai
aktivitas seni, budaya, dan hiburan
Berdiri sejak 1861 pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara IV, Pabrik Gula Colomadu pernah menjadi salah satu penggerak industri gula di Pulau Jawa. Setelah berhenti beroperasi pada 1998, bangunan tersebut direvitalisasi dan dibuka kembali pada 2018 dengan nama De Tjolomadoe. Proses revitalisasi tetap mempertahankan karakter bangunan beserta mesin-mesin produksi yang kini menjadi bagian dari koleksi museum.
Selain menawarkan wisata sejarah, De Tjolomadoe juga rutin menjadi lokasi penyelenggaraan konser, pameran, festival budaya, hingga kegiatan komunitas. Kehadiran berbagai agenda tersebut membuat kawasan ini tidak hanya dikunjungi untuk belajar sejarah, tetapi juga sebagai tempat berkumpul dan menikmati suasana.
Salah seorang pengunjung, Venus, mengatakan dirinya datang ke De Tjolomadoe karena ajakan teman. Awalnya, ia hanya ingin menikmati suasana dan mencari tempat yang menarik untuk menghabiskan waktu.
”Aku awalnya cuma ikut teman jalan-jalan. Kirain bakal lihat bangunan tua biasa, ternyata tempatnya keren banget dan banyak spot yang estetik. Pas masuk ke museum, aku jadi penasaran sama sejarahnya. Seru juga ternyata bisa jalan-jalan sambil tahu cerita di balik bangunan ini. Jadi pulangnya bukan cuma bawa foto, tapi juga nambah wawasan,” tutur Venus.
Menurutnya, konsep yang memadukan bangunan bersejarah dengan fasilitas modern membuat De Tjolomadoe terasa lebih dekat dengan generasi muda. Pengunjung dapat menikmati suasana heritage tanpa merasa sedang berada di museum yang membosankan.
Keberadaan De Tjolomadoe menjadi bukti bahwa pelestarian warisan budaya dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui perpaduan fungsi edukasi, rekreasi, dan ruang kreatif, kawasan ini mampu menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya menarik, tetapi juga memberikan pemahaman baru mengenai sejarah bagi para pengunjung.






